Bagaimana Orang Ma’rifat itu ?
![]() |
| Pengajian Kitab Al Hikam - Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh |
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
مَا لْعَارِفُ مَنْ إِذَا اَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ اَقْرَبَ اِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لَا إِشَارَتَلَهُ لِفَنَائِهِ فِى وُجُوْدِهِ وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُوْدِهِ
مَا لْعَارِفُ مَنْ إِذَا اَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ اَقْرَبَ اِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لَا إِشَارَتَلَهُ لِفَنَائِهِ فِى وُجُوْدِهِ وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُوْدِهِ
Bukanlah orang ma’rifat ketika memberikan isyaroh/petunjuk
(pemberitahuan yang tidak nyata, gambaran-gambaran yang tidak nyata) dalam
segala bidang, dia merasa dekat dengan Allah SWT, merasa bisa bergerak sendiri
serta masih merasa bisa memberi isyaroh. Akan tetapi
orang yang ma’rifat itu ialah orang yang baginya tidak ada isyaroh karena ketiadaannya dalam wujud Allah SWT (Billah).
orang yang ma’rifat itu ialah orang yang baginya tidak ada isyaroh karena ketiadaannya dalam wujud Allah SWT (Billah).
Kalua seseorang memberikan isyaroh merasa bahwa dirinya ada, merasa
dekat dengan Allah SWT dan isyarohnya itu belum lepas dari dirinya dan dia
berbuat itu karena li… (untuk/selain Allah) maka dia belum juga bisa dikatakan
ma’rifat. Bila menyampaikan sirri-sirri yang diberikan Allah SWT kepada kita,
maka dalam menyampaikannya kepada orang lain kita harus hati-hati dan Taqdimul
Aham fal Aham.
Orang yang dikatakan ma’rifat sebenarnya adalah orang yang memberi
isyaroh tetapi tidak merasa memberi isyaroh. Perasaan ketiadaan itu dikarenakan
fana’ (lebur), menganggap bahwa selain Allah SWT itu tidak ada. Orang yang
seperti itu menduduki maqom jam’u (kumpul), istilah Mbah Yahi Qs wa Ra,
Ahadiyah.
حَتَّى لَانَرَى وَلَانَسْمَعَ وَلَانَجِدَ وَلَانُحِسَّ وَلَانَتَحَرَّكَ
وَلَانَسْكُنَّ إِلَّا بِهَا
Dengan merasakan keagungan Allah SWT orang yang menduduki maqom jam’u
telah lupa pada dunia / tidak butuh dunia, mereka Billah dalam Billah, Mereka
telah Billah kepada makhluk dan mereka Billah kepada Billahnya.
ROJA’ (PENGHARAPAN) HARUS DISERTAI DENGAN USAHA
اَلرَّجَاءُ مَاقَارَنَهُ عَمَلٌ وَاِلَّا فَهُوَ اُمْنِيَّةٌ
“Pengharapan
ialah sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan, bila tidak demikian, maka itu
disebut angan-angan”. Pengharapan yang haqiqi yaitu pengharapan yang disertai
dengan amal ibadah, berdhepe-dhepe dan bersungguh-sungguh. Karena sesungguhnya
orang yang menginginkan sesuatu maka ia akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu
tersebut.
Jika roja’ (pengharapan) pada Allah SWT tadi tidah bersungguh-sungguh,
tidak disertai amal, malah dia berani berbuat maksiat maka pengharapan ini
adalah “lamunan” atau “angan-angan”.
Al Hasan Rodliyallohu ‘anhu berkata :
عِبَّدَ اللهِ إِتَّقُوْا هَذِهِ الْاَمَانِــيَّ فَإِنَّهَا اَوْدِيَهُ
الْهَلَكَةِ تَحْلَوْنَ فِيْهَا وَاللهِ مَااَتــي اللهُ عَبْدًا بِأَمَانِــيَةٍ خَيْرًا
فِــى الدُّنْيَا وَلَا فِــى الْآخِرَةِ
“Hai hamba Allah, berhati-hatilah kamu terhadap angan-angan atau lamunan
yang palsu. Maka sesungguhnya itu semua jurang kebinasaan yang kamu akan
terlena karenanya. Demi Allah, tidak pernah Allah memberi kebaikan kepada
seorang hanya semata-mata, karena angan-angan belaka, baik di dunia maupun di
akhirat”.
Dalam hal ini Rasululloh SAW bersabda : “Bahwa orang yang mempunyai
akal sehat, berilmu adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya dan orang
yang tidak berakal yaitu orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsu dan
mempunyai pengharapan-pengharapan pada Allah SWT tentang dunia”.
Orang yang roja’nya lemah apabila berdo’a belum dia diijabahi oleh Allah
SWT, dia akan merasa putus asa. Tetapi orang yang mempunyai roja’ yang kuat
begitu belum diberi hasil malah nekat. Kalua punya himmah yang kuat belum
diberi hasil, dia tidak akan putus asa malah berani mati. Begitulah pengharapan
terhadap sesuatu itu harus dibarengi dengan usaha atau amal. Tanpa usaha tidak
akan tercapai cita-cita kita.
QOBDU DAN BASTHU
بَسْطَكَ كَيْ لَايُـبْقِـيْكَ مَعَ الْقَبْضِ وَقَبْضَكَ كَيْ
لَايَتْرُكُكَ مَعَ الْبَسْطِ وَاَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لَاتَكُوْنَ لِشَيْئٍ
دُوْنَهُ
“Kelapanganmu itu agar supaya tidak menetapkan kamu Bersama dalam
kesempitan. Dan kesempitan itu supaya tidak meninggalkan kamu Bersama dalam
kelapangan. Dan Allah SWT meluaskan (mengeluarkan) kamu dari keduanya itu agar
kamu tidak bergantung kepada sesuatu selain Dia”.
Allah SWT memberikan rasa senang dan gembira di hati seseorang supaya
kita tidak merasa sumpek, karena sumpek di hati itu tidak bermanfaat. Maksud
Allah SWT memberikan rasa senang supaya kita tidak sumpek terus. Demikian
sebaliknya Allah SWT memberikan kesumpekan kepada seseorang supaya kita tidak
terus-menerus mengenyam kesenangan.
Basthu adalah rasa berbinar-binar, rasa berbunga-bunga, rasa bangga.
Sedangkan Qobdu adalah rasa sumpek. Jadi dua sifat yang berlawanan yaitu susah
dan senang.
Setengan daripada sifat welas Allah SWT pada kita, yaitu berubah-ubahnya
sifat Qobdu dan Basthu. Penyebab Qobdu dan Basthu itu karena waridnya Allah SWT
yang diturunkan di hati. Apabila diberi warid jalal oleh Allah SWT maka akan
timbul rasa gemetar, takut (Qobdu). Sedangkan orang yang ditajali oleh sifat
jamalnya Allah SWT maka akan timbul Basthu/rasa gembira.
Sesungguhnya orang Arif tidak memperhatikan diri sendiri dan tidak
memikirkan bagaimana yang akan datang. Insya Allah, setiap orang yang menuju
ma’rifat pernah merasa seperti ini.
Dahulu, sebelum ada sholawat Tsaljul Qulub, ketika Mbah Yahi Qs wa Ra
masih menta’lif sholawat Ma’rifat, banyak orang yang menangis…saja, maka
kemudian setelah itu Mbah Yahi Qs wa Ra menta’lif sholawat Tsaljul Qulub. Ini
merupakan fadhol Allah kepada kita para hadirin-hadirot. Oleh karena itu mari
kita syukuri, syukur kepada Allah, kepada Mbah Yahi Qs wa Ra.
الفا تحة
يَآ
اَيُّهَا الْغَوْثُ سَلاَ مُ اللهِ * عَلَيْكَ رَ بِّنِى بِاِذْنِ اللهِ
وَانْظُرْ
اِلَيَّ سَيِّدِ ي بِنَظْرَةِ * مُوْصِلَةٍ لِّلْحَضْرَةِ الْعَلِيَّةِ
الفا تحة
Demikian semoga kita mendapat Taufik dan Hidayah Allah SWT, Syafaat
Rasululloh SAW dan Barokah Nadroh Ghoutsu Hadzaz Zaman Ra. Amin.
Pengajian
Al Hikam Ahad Pagi oleh
Hadrotul
Mukarrom Kanjeng Romo
KH. Abdul
Latif Majid RA
(Maret-1998)
Tentunya
penulisan ini masih dari jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada
pembaca yang budiman, sudinya untuk memberikan saran perbaikan dalam penulisan,
baik dalam lafad arab maupun lafad latin dengan menghubungi admin melalui email
atau menulis komentar.
Besar
harapan kami bisa memberikan
manfaat kepada pembaca, khususnya bagi Perjuangan Suci Fafirruu
Ilallooh wa Rasulihi SAW. Segala
salah dan khilaf mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Aham
edisi 11. 35 Tahun Sholawat Wahidiyah (edisi khusus). (Kediri
: Qolamuna, 1998). Hal33-34

Tidak ada komentar