Sifat Ad Dhohir dan Al Batin Alloh
![]() |
| Pengajian Kitab Al Hikam - Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh |
بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
أَظْهَرَ كُلَّ شَيْئٍ
لِأَنَّهُ الْبَاطِنُ وَطَوَى وُجُوْدَ كُلِّ شَيْئٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ
Alloh itu punya sifat Ad Dhohir dan sifat Al Batin. Ditinjau dari Batin, Alloh itu tidak tampak. Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala. Itulah Allah dikatakan Batin. Sedang secara Dhohir, Allah itu nyata. Wujud-Nya Alloh haq, nyata adanya. Jadi Batin itu, maksudnya tidak bisa terlihat. Menurut pandangan bashor, tidak bisa terlihat. Hakikatnya, Allah itu dhohir. Hakikatnya, karena mahjubun bisifatihi. Ai bi jalalihi, dengan sifat keluhuran-Nya Alloh, keagungan Alloh itu menutup mata kita, hingga kita tidak bisa melihat. Ini bashor. Kalau itu bashir, Alloh itu
Alloh itu me”lahir”kan dengan Batin-Nya. Karena
Alloh memakai sifat Batin, menjadi makhluk dhohir, indal bashor, menurut
pandangan mata. Milo Alloh me”lahir”kan dengan Batin-Nya Alloh, sifat Batin-Nya
Alloh. Karena kalua kita melihat Alloh Batin, makhluk menjadi dhohir indal
bashor. Dengan bahasanya di sini, yo oleh-Nya Alloh memiliki sifat Batin,
hingga memunculkan itu. Alloh menutupi dengan batin-Nya. Maka kebatinan-Nya
Alloh, kegaiban-Nya Alloh ini tidak bisa bersekutu dengan makhluk. Maka ketika
Alloh menampakkan sifat batin-Nya, makhluk terlihat sifat dhohir-Nya indal
bashor. Batin-Nya Alloh ya juga indal bashor. Wa indal bashir, Alloh tetap Ad
Dhohir. Dengan Alloh menampakkan sifat batin-Nya, maka muncullah adhhara
kulla syaiin, malih Nampak ketika Alloh menampakkan sifat batin-Nya. Dan
tidak akan menjadi batin, lain-Nya Alloh. Kabeh dhohir. Ketika Alloh tampak
batin-Nya, ya makhluk ada. Ini memandang syariat. Ketika kita memandang dhohir
syariat, Alloh menjadi gaib. Ketika Alloh menjadi gaib, mekhluk menjadi ada.
وَطَوَى وُجُوْدَ كُلِّ شَيْئٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ
Dan nglempit, bahasane nglempit. Tapi
bukan seperti nglempit kloso, bukan. Ini hanya majas. Hilang dengan sendirinya.
Kelempit. Koyok kelempite bumi mergo mripate sampean merem mak pet, kelempit.
Niki bahasane pun dipadakne koyo dene nglempit kloso, terus digulung, mboten.
Itu hanya majas. Dan semua yang wujud dhohir ini, akan hilang ketika Alloh
menampakkan wujud dhohir-Nya Alloh. Wujude peteng dedet. Peteng niku nggeh
makhluk. Peteng niku dhohir. Dan peteng iso ilang. Ketika dhohir-Nya Alloh
muncul, ketika lampu dikakne byar, maka sifat peteng hilang. Thuwan kulla
syaiin binuuri misbah, dengan nurnya lampu, thuwaa kulla syaiin. Karena
apa? Dhohirnya Syaik tidak bisa bareng dengan dhohir-Nya Alloh. Dhohire lampu
tidak bisa bareng dengan dhohire peteng. Peteng akan terlempit oleh dhohire
lampu. Padange lampu, nglempit kahanane peteng, hilang. Lek dilempite kloso, yo
ketok digulung. Hilang, fanak, rusak makhluk seng jenenge peteng mergo enek
lampu, fanak. Rusak, adam. Adame sifat peteng, kerono anane sifat padang. Alloh
Dzat yang Dhohir. Maka ketika seseorang memandang kepada sifat dhohir-Nya
Alloh, maka makhluk hilang, adam. Terutama besok di Yaumil Akhiroh kalua ingin
biainil bashor. Kalua di alam pikiran, jelas. Dalam dzaukiyah kita, ketika kita
melihat Alloh, maka lainnya akan hilang. Kembali kemarin, seperti jendela ada
kacanya, atau kaca mata, kemarin saya gambarkan.
Ketika orang melihat, dia niat melihat benda
dibalik kaca, maka kacanya akan hilang. Tapi ketika benda di balik kaca hilang,
maka kacanya akan muncul. Hilangnya benda di balik kaca mata itu, karena
konsentrasi mata kita kepada kaca, sehingga benda dibaliknya hilang, adam. Ini
arbaabil bashoir, orang yang sudah mulai ma’rifat. Tapi ketika orang itu
istoghol dengan kaca, ini bagi mereka yang mahjuubin, maka benda di balik kaca
menghilang. Ketika manusia mahjuj bil zujaj, tertutup dengan kaca, ay
istighol kepada zujaj, maka benda dibalik kaca hilang. Ketika kita melihat
Alloh, dhohir-Nya Alloh fana. Thuwiyaa, telempit dengan olehnya
musyabahah kepada dhohir-Nya Alloh. Nah, orang ini musyabahah dengan dhohir-Nya
Alloh, atau musyabahah dengan lahirnya Alloh. Ini kalua kita berhubungan dengan
maknawi. Bagi mubtadiin, suatu saat dia melihat makhluk, Alloh Mahjub. Ketika
dia melihat Alloh, makhluk hilang. Ini Namanya fanak. Kemudian turun, ini
Bahasa Hikam, menuju kepada Wahidiyah Tsani. Berkumpulnya antara Wahidiyah dan
Ahadiyah. Maka Alloh tampak nyata, inda arbaabil bashoir, dan makhluk
juga tampak. Maka ini normal. Kalua Syaikh Siti Jenar, belum. Syaikh Siti Jenar
hanya bisa melihat Alloh, maka makhluk tidak ada. Melihat benda dibalik kaca,
kacanya hilang. Tapi bagi mereka yang sudah bisa, bisa melihat dua-duanya.
Kacanya yang terlihat, benda dibaliknya juga terlihat. Sing gawe koco moto
putih, ndang dijajal. Aku yo nggowo ki. Jika kita konsentrasi nyawang benda di
depan sana, kacanya hilang. Tapi kalua kita coba konsentrasi kepada kacanya,
benda di depannya tidak terlihat. Tapi juga bisa melihat dua-duanya, bagi
mereka yang sudah istiqomah.
Jika sudah istiqomah, Allah tidak akan
menjadikan mereka muncul secara dzatiyah. Tapi muncul, wujudnya biwujudillah.
Jika kita melihat benda dibalik kaca, kaca fanak, adhamun mahdzun. Kalau
kita sudah melihat Alloh, makhluk digambarkan seperti kaca.
يَرَى اللهُ فِى كُلِّ شَيْئٍ
Melihat Alloh dalam segala
sesuatu.
Ketika melihat Alloh, syaik
tidak ada, kaca tidak ada, adamun mahdzun. Itulah Thuwiya bi
Dhohirillah, kelempit dengan Dhohir-Nya Alloh. Makhluk sudah tidak maujud,
karena kita sudah melihat dhohir-Nya Alloh. Kecuali karena sifat wujud-Nya Alloh.
Tegese mujudake soko Alloh. Ay mukawanat binuuri wujudihi.
Prakteke piye seng penak?
Sampean dengan khayal sampean. Atau meja dengan kolong meja. Wujude kolong
meja, bidzati meja niki. Jika meja ini hilang, fanak wujude niki. Ketika
kita menganggap ada meja, maka muncul kolong meja. Ketika kita menganggap
kolong meja tidak ada, fanak, kolong meja tidak ada. Karena hakikatnya, adamun
mahdzun, kolong meja itu tidak ada hakikatnya.
Kesimpulannya, bahwa
sesungguhnya Alloh SWT itu punya dua nama. Ini tercantum dalam Asmaul Khusna,
ada Ahd Dhohir wan Bathinu.
فَاسْمُهُ
الظَّاهِرُ يَقْتَضِى بُطُوْنَ كُلِّ شَيْئٍ
Sifat dhohir Alloh itu, natrapi,
konsisten, kalau Alloh punya sifat Dhohir, maka semua akan menjadi gaib atau
hilang. Tidak mungkin ada 2 barang, Allah Dhohir dan makhluk dhohir, tidak ada.
Ketika Alloh Dhohir ‘inda arbaabl bashoir, kalau tidak ‘inda aqli saja. Kalau
kita berfikir Alloh ada, makhluk tidak ada. Karena apa? Mukholafatu
lilhawadits. Tapi ‘inda dhohiriyah ya masih ada. Jika sudah demikian, maka terlempitlah
wujud makhluk karena wujud-Nya Alloh. Dan nama-Nya Alloh yang batin tadi, kita
sedang konsentrasi melihat batin-Nya Alloh, atau dhohir-Nya Alloh. Jika kita
melihat dhohir-Nya Alloh, fanak, makhluk tidak ada.
وَاسْمُهُ الْبَاطِنُ يَقْتَضِى بُطُوْنَ كُلِّ شَيْئٍ حَتَّى لَاظَهَرَ
مَعَهُ
Adapun namanya Alloh Al Batin,
batin maksudnya tidak tampak oleh mata kepala. Kalau oleh hati, tetap ada.
Kalau lah sudah batin, gaib. Batin itu gaib. Lek gak kethok, gaib itu maknanya
sangat banyak. Lek diomongne gak kethok, maleh rendah maneh. Gaib, artinya
tidak tampak ‘indal bahsor. Buthun-Nya Alloh, gaib-Nya Alloh itu menatrapi
dhohir-Nya makhluk. Jadi, kembali lagi. Kalau sifat petenge diambil, maka
muncul padang. Karena sifat petenge Alloh itu, memunculkan sifat padange
makhluk. Tapi kalau kita menghadirkan padange Alloh, makhluk hilang. Begitulah
jika kita menghadirkan petenge Alloh, Gaib-Nya Alloh, makhluk ilang. Ini alam
dzukiyah. Lek alam akal, kados wingi kulo gambarne, antara peteng karo padang,
lek didatangkan padange, lampune dikakne, peteng fanak. Karena adamun
mahdzun. Tapi lek kita hadirkan petenge Alloh, lampu dipateni, petenge
lampu dikakne, maka dhohir. Tapi kalau dikakne, tidak. Maka akan wujud sesuatu
karena gaib-Nya Alloh. Artinya, dengan wujud-Nya Alloh, makhluk itu akan
muncul. Ay binuuri wujudihi, tegese Alloh mujudake, atau khuliqa.
Alloh itu Dzat yang Haq.
Makhluk itu diwujudake, binuuri biwujudihi. Lek gambarne penak. Kolong
meja dengan meja. Es dibuat dari air. Khayal buthun dari akal kita. Kalau Mbah
Yahi, benang dari kapas, kemudian kain dibikin dari benang. Khuliqa benang
biwujudil kapas. Khuliqal kain biwujudil benang. Ning teng
mriki, masih kurang bagus, ketika ada di benang, wujudnya kapas hilang,
fana’. Kalau jadinya kain, wujude benang, fana’. Yang tanpa fana’, meja dengan
kolong meja. Mbah Yahi dulu nerangne kulo, koyo amben karo kolonge Tif. Niki
pertama, kulo tasek bocah niki. Iki nek ambene mbok angkat, kolonge yo ra enek.
Ambene ijek, tapi nek diwalek, kolonge tidak ada. Tapi nek dipasang murep,
kolonge ada. Ning nek dimlumahne, kolonge tidak ada. Lah wujude kolong meja ,
tanpa adame meja. Tapi lek benang kapas, muncule kain, ilange benang, muncule
benang, ilange kapas. Perpindahan maujud. Alloh tidak perpindahan maujud itu.
Alloh tetap ada, di Lauhil Mahfud, Khuliqa Binuuri, bahasa di sini, binuuri,
bukan cahaya seperti cahaya matahari. Seperti meja dengan kolong meja. Wujudnya
kolong meja, binuuri meja itu. Itu istilah saja. Jadi nur di sini, jangan difahami
seperti sinar. Maka lainnya Alloh, ia maujud. Tapi bisa menjadi wujud, ittiba’
bi khuliqa, dibentuk binuuri wujudihi, menurut orang-orang yang telah dibuka
mata hatinya, ay bashirotul maknawi, walaa bashirotul kauni. Lek bashirotul
kauni, awas, waskito. Sesok enek opo, terjadi. Sok emben enek opo, terjadi. Ini
bashirotul kauni. Belum tentu orang yang demikian ini diparingi bashirotul
maknawi. Bashirotul maknawi itu orang yang sudah bisa musyahadah, hatinya sudah
bisa musyahadah kepada Alloh. Ay kepada sifat wujud-Nya Alloh, kepada sifat
af’aliyahnya Alloh, dan sebagainya. Ini ma’rifat, atau dibuka bashirotil
maknawi. Lek bashirotil kauni, itu wong sing awas. Iki suk piye? Lulus nggak
lulus. Diparingi lulus. Bisa itu dengan melihatnya, malih diparingi lulus.
Macam-macam orang bashiroh itu. Ada yang tidak bisa, dengan gambar. Bocah
nggarap, iso, maleh melu-melu, terus digarap. Ini dengan gambar. Ada yang
dengan tulisan. Ada yang dengan hatif suara. Meneng, ada suara tanpa rupa. Ada
3 cara ini, orang diberi bashiroh. Yang paling lembut, tidak dengan ini. Yaitu
langsung hidayah-Nya Alloh, tidak melalui washitotul gambar, atau tulisan, atau
hatif. Langsung mafhum ‘ala qolbihi. Hakikatnya gambar seng diomongne
kuwi, yo atine wong kuwi. Ainul bashiroh, tapi bi washitotil gambar, atau
tulisan, atau suara. Tapi ada yang tanpa mendengar, tanpa tulisan dan tanpa
gambar, faham. Hingga seperti muncul dari akal, tidak dari bashiroh. Hakikatnya
ini sesungguhnya adalah bashiroh. Jadi sangat sulit dibedakan. Karena itu, Hadist
Qudsi dengan Hadist yang biasa, ini sulit dibedakan. Kalau Al-Qur’an, jelas.
Turun sesuai dengan ayat yang asli, dari kalammullah, min kalamillahi.
Baik itu melalui Malaikat Jibril atau langsung. Tapi jelas. Tapi kalau Hadist
Qudsi, itu tidak. Kanjeng Nabi diparingi faham, kemdian disusun Kanjeng Nabi,
menjadi Hadist Qudsi. Yang lebih halus lagi, tanpa suara, tanpa tulisan, tanpa
gambar, Alloh memberikan hidayah ‘ala khotirul qalbin nubuwwah, kepada
getarannya hati Nabi. Bukan Qalbul Muhammad, Qalbun Nubuwwah. Ini sulit
membedakan. Kemudian apa yang tergerak dalam Khatirul Qalbi Nabi SAW, yantiqu,
Kanjeng Nabi berbicara, jadi hadist.
Ini pernah diragukan oleh
sahabat, apakah itu karepe dewe Muhammad? Muhammad juga manusia. Maka
ada wahyu turun :
وَمَا
يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوْحَى
Mengapa ada ini? Pasti ada orang
yang meragukan. Ini hadist, bukan dari Allolh. Ini karya Muhammad, karepe
dewe. Suatu saat ada hadist dan ada orang yang merasa terugikan dengan
hadist tersebut. Artinya, tidak cocok dengan karepe. Ketika cocok, wah ada hadist,
cocok iki. Terus digawe. Ketika nggak cocok, wah, padune iki Muhammad. Sehingga
dijamin oleh Alloh: “Dan Muhammad tidak akan mengucap, yang muncul dari hawa
nafsunya. Sesungguhnya itu adalah wahyu yang diturunkan melalui Qalbun
Nubuwwah.” Ini yang paling halus. Tapi nilainya tetap yang paling tinggi, tetap
Kalamulloh langsung. Itu tadi, keterangan tentang arbaabil bashoir kauni.
Kalau arbaabil bashoir maknawi, ya orang yang dibuka bashirotil qolbi,
ay musyahadah kepada Alloh SWT.
Mudah-mudahan keterangan saya
ini, segini kemampuan saya menerangkan. Karena memang sulitnya apa yang menjadi
pengalaman untuk diungkap. Insya Alloh ukuran kulo niki pun jelas sekali. Kalau
tidak, kamu terlalu rendah akalnya. Insya Alloh ini, sudah sangat jelas sekali
saya menerangkan. Mudah-mudahan kita bersama diberi bashirotil qolbi,
walau qolilan, walau lahdhotan. Walau sak itik dan sak lapan,
kita diberi Alloh. Ini sudah untung. Karena dari nur-nur yang Alloh berikan
tadi, terbukalah musyahadah, hingga sampean bisa ngetrapne, adhharo kulla
syaiin liannahul bathin, wa thuwa qulla syaiin liannahu adh dhohir. Ini kalau
kepada dzaukiyah. Lek lahiriyah, yo aplikasine koyo dene peteng karo padang.
Lek nerangne mubtadiin, bocah jik sekolah, yo dianggep dewe peteng karo padang
niku wau. Ning lek maqom Wahidiyah, nggih mboten ngaten. Wong sing wis dikasab
bashirotul qolbi. Lek wis ngaten, dia sudah melihat batin-Nya Allah, maka akan
dhohir. Artinya, di sinilah maqom Wahidiyah, tapi Billah. Orang Billah itu, dia
melihat batin-Nya Alloh, maka wujudnya makhluk muncul, tapi biwujudillah.
Ketika dia musyahadah kepada shohir-Nya Alloh, fanak makhluk niku. Inilah,
orang ini dalam maqom Ahadiyah. Lek wis saget, bisa melihat sifat Batin-Nya
Alloh dan sifat Dhohir-Nya Alloh bi ainil bashiroh, maka orang ini pada tingkat
istiqomah baina Wahidiyah wal Ahadiyah. Istilah Mbah Yahi Madjid, Wahidiyah
Tsani. Ini istiqomah. Kalau Syekh Siti Jenar, ini belum istiqomah.
Mudah-mudahan, yo ora ketang sak itik, kita diberi Alloh SWT.
Al Fatihah
Transkrip Pengajian
Al Hikam Ahad Pagi
Oleh Hadrotul
Mukarrom Kanjeng Romo
KH. Abdul Latif
Majid RA
Ahad, 19 November
2017
Tentunya penulisan ini masih dari jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada pembaca yang budiman, sudinya untuk memberikan saran perbaikan dalam penulisan, baik dalam lafad arab maupun lafad latin dengan menghubungi admin melalui email atau menulis komentar.
Kami selaku penulis berharap bisa memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya bagi Perjuangan Suci Fafirruu Ilallooh wa Rasulihi SAW. Segala salah dan khilaf mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Aham edisi 136. Kejayaan itu... Berawal Dari Penguasaan Iptek.
(Kediri : Qolamuna, 2017). Hal32-35
Blog Aham Kedunglo

Tidak ada komentar