Bagaimana kedudukan kita di hadapan Allah SWT ?
![]() |
| Pengajian Kitab Al Hikam - Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh |
Apakah kita ingin mengetahui kedudukan kita di hadapan Allah SWT, apakah kita digolongkan dengan golongan hamba-hamba Allah yang diterima atau sebaliknya, maka kita harus melihat dimana Allah SWT meletakkan kita. Apakah kita digolongkan dengan orang-orang yang dikasihi atau dilaknat oleh Allah SWT, yaitu dengan cara melihat tingkah laku
keseharian kita.
Apabila kita senantiasa berbuat kedzaliman, maka kita pun dapat melihat disitulah Allah SWT meletakkan kita. Sebaliknya, apabila Allah SWT senantiasa menjaga kita dari perbuatan yang tidak diridloi-Nya, maka sesungguhnya Allah SWT telah meletakkan kita dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dicintai. Karena sesungguhnya siapa saja yang dalam keadaan bahagia ataupun susahnya, bahkan dalam keadaan bagaimanapun jua (sekalipun perbuatannya bukan perbuatan akhirat), senantiasa Lillah dan Billah, maka Allah SWT menjadikan dia orang yang senantiasa berbuat ketaatan.
keseharian kita.
Apabila kita senantiasa berbuat kedzaliman, maka kita pun dapat melihat disitulah Allah SWT meletakkan kita. Sebaliknya, apabila Allah SWT senantiasa menjaga kita dari perbuatan yang tidak diridloi-Nya, maka sesungguhnya Allah SWT telah meletakkan kita dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dicintai. Karena sesungguhnya siapa saja yang dalam keadaan bahagia ataupun susahnya, bahkan dalam keadaan bagaimanapun jua (sekalipun perbuatannya bukan perbuatan akhirat), senantiasa Lillah dan Billah, maka Allah SWT menjadikan dia orang yang senantiasa berbuat ketaatan.
Sebaliknya apabila kita berada dalam golongan orang-orang yang ditolak
oleh Allah SWT, maka dalam kita mengerjakan segala amal perbuatan (sekalipun
kelihatannya amal akhirat), ditolak atau dibenci Allah SWT (sebab tidak Lillah
Billah).
Jadi, apabila kita ingin melihat dimana Allah SWT meletakkan kita, maka
kita harus melihat sebatas mana kita meletakkan Allah dalam hati kita
(senantiasa Lillah Billah istilah Wahidiyah). Apabila kita senantiasa
meletakkan Allah dalam hati kita (Lillah Billah), maka kita tergolong hamba-hamba
yang dikasihi-Nya.
Rasululloh SAW bersabda : “Barang siapa ingin melihat kedudukannya
dihadapan Allah SWT, maka dia harus melihat kedudukan Allah SWT di hatinya”.
Barang siapa yang melaksanakan amal ibadah di dunia dan tidak pernah
mengharapkan segala amal perbuatannya itu, baik pujian dari sesame insan dan
juga tidak pernah pamrih dalam segala hal, baik itu ingat akan surga maupun
takut siksa neraka, maka sesungguhnya orang itu tergolong hamba Allah yang
sempurna dan dikaruniai nikmat dari Allah SWT berupa kesempurnaan ibadah.
Untuk itu marilah kita melihat hubungan kita antar manusia dan
masyarakat maupun dengan Allah SWT yang
telah menciptakan segala makhluk di muka bumi ini. Apabila kita hanya
tergantung oleh duniawi saja tanpa memikirkan akhirat, kita termasuk golongan
hamba Allah yang celaka.
Jadi, kita dapat melihat kedudukan kita di hadapan Allah SWT dari hati
kita sendiri. Apakah di dalam kehidupan kita hanya terbayang surga dan neraka?
Apakah di dalam sholat kita hanya terbayang dunia? Apakah di dalam mujahadah
kita hanya terbayang insan belaka? Dan apakah bayangan Allah SWT jauh dari
jangkauan kita?. Mari kita sadari. Kita hidup di dunia ini hanya sementara,
daripada menyesal di akhirat nanti, lebih baik kita bertaubat sedini mungkin.
*************
Sebaik-baik perkara yang harus dimohonkan kepada Allah SWT adalah
sesuatu yang dalam menjalankannya dengan ISTIQOMAH baik lahiriyah maupun
batiniyah. Permohonan ini lebih bagus daripada yang kita seringkali mohonkan,
yaitu kepentingan kita yang berupa materi atau harta. Karena sesuatu yang kita
butuhkan di situ masih ada nafsu atau belum Lillah Billah, padahal Allah SWT
menganjurkan pada kita semua untuk selalu thoat (Lillah-Billah) dan istiqomah.
Rasa susah yang disertai menangis kepada Allah SWT tetapi tidak disertai
adanya bangkit untuk beribadah kepada Allah
SWT, itu merupakan salah satu pertanda tertipu oleh tangisannya atau
menangisnya adalah palsu, walaupun kita menangis di dalam mujahadah. Tetapi
kalua tidak bangkit untuk ibadah kepada-Nya, maka menangis kita itu sekali lagi
adalah tangisan palsu.
Banyak mata yang menangis tetapi banyak hati yang keras. Kita terjebak
dengan tangisan itu dan menganggap tangisan tadi adalah tangisan yang baik. Ini
adalah suatu peringatan buat kita. Tangisan kita sering kali terdorong oleh
rasa susah. Sedangkan rasa susah yang benar adalah susah yang dapat
membangkitkan kita baik lahir dan batin untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan
mereka yang berada/yang menempati moqom “susah yang sebenarnya” (yang dapat
menimbulkan tangis – selanjutnya menyebabkan bangkit untuk beribadah) adalah
orang-orang yang menempati maqom shodiqin.
Mari kita Bersama-sama memohon maghfiroh kepada Allah SWT, karena salama
ini tangisan kita adalah palsu para hadirin-hadirot.
الفا تحة
يَا رَبَّـــنَا
اللَّهُمَ صَــــلِّ وَسَــلِّمِ * عَــــلَى مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ اْلاُمَــمِ
وَاْلآلِ
وَاجْعَلِ اْلأَنَامَ مُسْرِعِينْ *
باِلْوَاحِدِيَةِ لِرَبِّ الْعَالَمِينْ
يَارَ
بَّنَااغْفِرْيَسِرِّافْتَحْ وَاهْدِنَا * قَرِّبْ وَاَ لِّفْ بَيْنَنَا يَا رَ
بَّنَا
الفا تحة
Pengajian
Al Hikam Ahad Pagi oleh
Hadrotul
Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Majid RA
(22 Februari dan 1 Maret 1998)
Tentunya
penulisan ini masih dari jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada
pembaca yang budiman, sudinya untuk memberikan saran perbaikan dalam penulisan,
baik dalam lafad arab maupun lafad latin dengan menghubungi admin melalui email
atau menulis komentar.
Besar
harapan kami bisa
memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya bagi Perjuangan Suci
Fafirruu Ilallooh wa Rasulihi SAW. Segala
salah dan khilaf mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Aham
edisi 10. Krisis Moneter dan Kesadaran Kita. (Kediri
: Qolamuna, 1998). Hal38-39
Blog
Aham Kedunglo

Tidak ada komentar