Tingkatan Ikhlas : Menguak antara Mental Buruh dan Mental Hamba
![]() |
| Pengajian Kitab AL Hikam - Ponpes Kedunglo Al Munadhdhoroh |
الأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَأَرْوَاحُهَا وُجُوْدُ سِّر الْإِخْلَاصِ
فِيْهَا
Amal-amal itu
ibarat gambar yang berdiri,
Sedangkan ruh
amal itu adalah adanya rahasia ikhlas didalamnya
Kyai Mushonif (pengarang Kitab Al Hikam) dawuh, amal-amal dhohiriyah
itu, atau kaifiyahnya ibadah, seperti shalat atau semacamnya. Baik bacaannya,
gerakkannya, sekaligus niatnya, itu seperti gambar yang berdiri, tanpa ruh.
Seperti patung, seperti mayat. Seperti manusia yang tidak ada ruhnya, seperti
jenazah. Yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Hanya gambar yang berdiri. Wa
arwahuha…,
Amal kalau tidak ada arwahnya, amal itu tidak hidup dan tidak ada
manfaatnya. Sama seperti halnya mayat. Tapi bila dipasang ruhnya, ini
menjadikan si ‘mayat’ tadi hidu. Begitulah amal. Ia ibarat gambar yang berdiri.
Tidak hidup. Tidak ada manfaatnya. Amal menjadi hidup dan ada manfaatnya bila
ruh amal itu dipasang. Sedangkan ruh amal, adalah sirri ikhlas, atau rahasia
ikhlas yang diberikan pada hati seseorang.
Jadi, ibadah yang tidak ada ruhnya tidak diterima. Dan ibadah yang
diibaratkan sebagai “suwarun qooimatun wa arwahuha” sudah ada niat
ikhlasnya, sehingga ibadah ini bisa dinamakan ibadah yang sempurna dan aakan
bermanfaat. Artinya, jika syarat sahnya sahnya shalat sudah ditepati, dan
ditambah ikhlas, maka amal itu akan diterima Allah SWT, amal itu punya hak
untuk mendapatkan balasan berupa ganjaran dan fadhol dari Allah.
Wal ikhlaashu yakhtalifu bi ikhtilaafin-naas. Adapun ikhlas itu sendiri tingkatannya berbeda-beda. Sama seperti
berbeda-bedanya manusia satu dengan yang lain. Oleh karena ikhlas itu bertempat
di hati, maka sangat tergantung bagaimana kondisi hati manusia itu sendiri.
“fa Ikhlaashul Ubbaad…, Adapun
tingkatan ikhlas yang pertama adalah ikhlasnya orang-orang yang ahli ibadah.
Yaitu ketika ia ibadah semata-mata hanya menjalankan perintah Allah. Salaamatul
a’maalihi, selamatnya amal-amal Ubbad (ahli ibadah) dari riya’: baik riya’
jalli (riya’ jelas) atau riya’ khofi (riya’ samar). Riya’ jalli misalnya, niat
memamerkan. Bila ia ibadah, dalam hatinya ada motivasi supaya dipandang orang
lain begitu-begitu. Kalau khofi lebih halus lagi. Kelihatannya tidak
memamerkan, tetapi kenyataannya masih mengandung unsur memamerkan. Di dalam
hatinya masih ada bagiannya nafsu.
Jadi, Ikhlasnya Ubbad itu bersih dari riya’ ujub, takabbur, dan
perkara-perkara yang jadi bagiannya nafsu. Missal pujian, surga, neraka, dan
sebagainya. Jika ikhlas kita bersih dari itu, maka dikatakan ubbad.
Falaa ya’maluuna amala illa lillaahi ta’ala tholaban lits-tsawaabi wa
haroban mina ‘iqoobi ma’a nisbatil ‘amali ilaihim wa I’timaadi ‘alaaihi fii
tahshiili maa dzukiro. Seorang ahli
ibadah, jika ia telah diberi keikhlasan, ia sudah tidak lagi mengharap
ganjaran. Ibadahnya semata-mata hanya karena Allah. Lillahi Ta’ala. Ia tidak
lagi mengharapkan ganjaran. Kalaupun ia mengharapkan ganjaran, itu didasarkan
karena perintah Allah. Kalaupun ia berusaha lari dari siksa neraka, juga karena
perintah Allah. Bukan karena takut panasnya neraka. Jelasnya; minta selamat
dari siksa, minta diberi ganjaran, semata-mata karena perintah Allah bukan
karena enaknya ganjaran dan panasnya siksa.
Namun disini, ia masih mengaku amalnya ini adalah amalnya dia, “ma’a
nisbatil amali ilaihim”. Ia masih merasa bisa beramal walaupun sudah
ikhlas. Ia juga terkadang masih mengharap sesuatu dari amal tersebut, yaitu
hasil atau perkara-perkara yang diminta, misal; selamat dari neraka dan diberi
ganjaran. Meski atas dasar Lilllah. Sehingga ganjaran dan keselamatan ini
sering digantungkan kepada amal ibadahnya; bila ibadahnya mempeng maka
ganjaranya banyak, jika takut kepada Allah karena Allah, maka akan selamat dari
neraka. Orang seperti ini bisa diibaratkan seorang pembantu. Ia menggantungkan
hasil kerjanya berupa uang kepada pekerjaanya. Jika rajin dan baik kerjanya,
maka akan dibayar. Dan jeleknya lagi; ibadahnya ini masih diaku.
Wal Ikhlaashul Muhibbin… yang kedua
adalah ikhlas Muhibbin. Yaitu disamping ikhlas semata-mata karena Allah, juga
sebab rasa ikroman, ta’dziman, ij’lalan, mengagungkan Allah, niat cinta kepada
Allah. Karena didalam hatinya ia diberi ni’matul ikroman, ta’dziman wa
mahabbatan kepada Allah. Sehingga ketika ia beramal, disamping Lilah, juga demi
memenuhi cintanya kepada Allah, demi meluhurkan Allah. “laa liqoshdi
tsawaabin walaa harobin min ‘iqoobi. Tidak karena mencari surga, bukan pula
karena takut neraka. Kalau seorang Abidin tadi, dalam beramal ia masih mencari
surga, meskipun mencari surga itu sendiri masih didasari Lillah. Tetapi kalau
Muhibbin, tidak seperti itu. Amal dan ibadahnya, disamping telah Lillah, juga
semata-mata karena ikroman wa ta’dziman wa mahabbatan kepada Allah SWT.
Wa lidzaa qoolat… oleh karena
itu, Robi’ah Al Adawiyah, seorang wanita sufi, ia mendekat kepada Allah dengan
jalan Roja’. Pada umumnya, para salik (orang yang berjalan menuju Allah), aktsaruhum
(kebanyakan mereka) menempuh jalan bil khouf (dengan cara takut kepada
Allah). Muaranya takut kepada Allah ini adalah tobat. Wahidiyah termasuk memakai jalan khouf,
tetapi juga terdapat mahabbahnya. Oleh karena itulah Mbah Yahi QS wa RA
senantiasa mengajak kita berdepe-depe tobat dan mengaku dosa. Aqrobut
thuruqi ilallahi fii akhiriz zaman, khushuson lil mushrifi katsrotul istighfari
was sholaatu alan Nabiyyi shallallaahu ‘alaihi wasallam. (Jalan yang paling
mudah menuju Allah di zaman akhir ini adalah dengan memperbanyak istighfar
(sebab banyak dosa) dan membaca Shalawat kepada Nabi SAW). Diajak menangis
kepada Allah. Dengan harapan Allah mencintainya.
Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman : “Barangsiapa yang berjalan
kepada-Ku satu langkah, maka Aku (Allah) akan mendekatkan kepadanya sepuluh
langkah…” begitulah. Rabi’ah Al Adawiyah dalam perjalanannya menuju Allah
berada di maqom Roja’: ia mengharapkan kasih saying-Nya Allah, mengharap
Dzat-Nya Allah. Dan berdasarkan kisah spiritualnya menuju Allah ini, Rabi’ah Al
Adawiyah termasuk seorang Muhibbin. Atau Muhibbat. Maa ‘abadtuka khoufan min
naarika walaa thoma’an fii jannatika. Rabi’ah berkata: “Yaa Allah, aku
beribadah kepada-Mu bukan karena aku takut dengan siksa-Mu dan bukan pula aku mengharapkan
surga-Mu”. Disini, yang dicari Rabi’ah bukan lag isurga dan juga bukan rasa
aman dari siksa neraka. Yang dicari Rabi’ah dengan pendekatan mahabbahnya
adalah Allah itu sendiri. Dengan rasa cintanya kepada Allah, Rabi’ah mengharap
Roja’, kasih saying-Nya Allah kepadanya. Jika ia mencintai Allah, maka Allah
pun akan mencintainya. Sehingga sholatnya, ibadahnya hanya semata-mata ikroman
wa ta’dziman kepada Allah. Hanya mahabbah, tidak ada keinginan surga dan
ketakutan neraka. Laisa bi qolbi siwaa-ka. “Sungguh tidak ada apapun di
hatiku ya Allah kecuali Engkau”. Kosong tidak ada apa-apa. Yang ada di hati
Rabi’ah adalahAl Mahbub: yang dicintainya. Sebab ia adalah seorang Muhibbin
yang ikhlasnya bukan karena surga dan neraka, tetapi hanya mengharap cinta
Allah SWT.
Maqom Muhibbin setingkat lebih tinggi dari mahabbahnya orang Abidin. Kalau
Abidin: rajin mujahadahnya supaya diberi rizki yang luas, bisa membayar hutang,
masuk surga, selamat dari neraka. Itu adalah Abidin. Kalau seorang Muhibbin,
amalnya bukan karena sebab hutang, bukan sebab sakit atau yang lainnya, tetapi
semata-mata hanya didorong perasaan cinta kepada Allah yang menggelora. Tapi,
di maqom inipun masih ada kekurangan. Yaitu masih ada pengakuan. Masih mengaku
cinta kepada Allah, masih mengaku ahli abadah kepada Allah, dan sebagainya.
Seperti kata Rabi’ah di atas “Aku ibadah kepada-Mu ya Allah bukan karena
khoufan min narrika wa thoma’an fii jannatika”. Bahkan dalam keterangan
pembahasan ini dikatakan: …Fanasibbatil ibaadata ilaiha. Orang yang menempati
maqom ini masih merasa bisa ibadah. Dengan demikian, disini tampak bahwa
Rabi’ah belum sampai martabat Billah.
Yang ketiga adalah “Ikhlasul Arifin” ikhlasnya para Arifin. Dalam kitab
Al Hikam disebutkan Syuhuuduhum infiroodal haqqi bitahriikihim wa
taskiinihim min ghoiri an yarau lianfusihim fii dzaalika haulan walaa quwwatan.
Falaa quwwatihim. Haadza arfa’u mimma qoblahu. Adapun ikhlasnya orang yang
sudah ma’rifat atau sudah mencicipi bagiannya ma’rifat, apalagi ma’rifat yang
kamil (tammah): yaitu melihat Allah Dzat Yang Wahid atau Dzat Allah Yang Esa,
Wahid di dalam Fi’liyah-Nya, Wahid di dalam Af’aliyah-Nya, Wahid di dalam
Sifatiyah-Nya, Wahid di dalam Dzatiyah-Nya, Wahid Qudrot-Nya, Wahid Irodah-Nya.
Jika sudah melihat Allah adalah Dzat Yang Tunggal segala-galanya, maka seorang
Arifin, didalam bekerjanya, bergerak dandiamnya, ia tidak lagi memandang bahwa
gerak maupun diamnya itu karena kekuatan Arifin itu sendiri. Sebaliknya, ia
sadar bahwa tidak ada yang memiliki daya dan kekuatan kecuali Allah Infiroodal
haz qoulan wa quwwatan. Ia tidak lagi melihat bahwa ibadahnya itu adalah daya
dan kekuatannya sendiri. Tetapi semua itu adalah dayanya Allah. Dalam istilah
Wahidiyah Billah. Fala ya’maluunal ‘amal illa billah.
Dengna demikian, orang Arifin itu, disamping ikhlas, Lillah dan bersih
dari nafsu, juga tidak pamrih surga, atau neraka. Karena selama ia meminta,
selalu mendasarkan perintah-Nya Allah; Lillah. Seorang Arifin juga senantiasa
ikroman wa ta’dziman kepada Allah. Ditambah lagi Billah. Maka, para Arifin itu
menempati maqom tiga-tiganya. Yaitu maqom Abidin, Muhiibbin dan Maqom Arifin
itu sendiri. Jadi sudah sempurna. Lha, kita dituntun Mbah Yahi pada tingkat
Ikhlasul Arifin, walau kita masih diberi sedikit, tapi harus kita perhatikan. Idza
fataha laka wijhatan minat-ta’arufi fala tubaali ma’aha in qolla amaluka.
Jelasnya, bila nur ma’rifat di dalam hati sudah dibuka, perhatikan itu. Jangan
melihat amal saya yang sedikit. Atau, jangan sampai karena amalnya sedikit,
ikhtiar mati-matian memperbanyak amal, lantas lupa tidak melatih hati untuk
Lillah dan Billah. Sehingga meski amalnya banyak, orang tersebut kelasnya hanya
Ikhlasul Abidin. Masih menisbatkan amal kepada nafsihi (dirinya sendiri), hal
ini masih syirik. Maka pada bahasan sebelumnya kita diperintah untuk
memperhatikan apa yang ada. Fii kulli saa’atin wa makaanin dimana dan
kapan saja.
Melatih Lillah dan Billah itu sulit, sulit sekali. Dan hati ini seperti
wadah. Jika kosong, wadah itu harus diisi agar selalu ada isinya. Maka Mbah
Yahi QS wa RA sering menyuruh kita agar selalu memperbanyak membaca shalawat,
entah itu membaca Yaa Sayyidi Yaa Rasuulallah atau yang lain. Fii kulli
makaanin wa saa’atin. Sebab, dengan membiasakan hati ada isinya, bisa
menjadikan hati tetap menghadap kepada Allah. Dan bila hati selalu menghadap
kepada Allah, Allah akan mentajalli (membuka) hati tersebut sehingga bisa
mengeterapkan Lillah dan Billah. Untuk itu, maka dicoba saja mengeterapkan
Lillah dan Billah sambal berjalan, diam, dan dalam hatinya senantiasa membaca
shalawat. Jika terbiasa demikian, nantinya hati akan enak karena mendapat
bimbingan Rasuulullah SAW.
Melatih diri sendiri itu Namanya ikhtiar bi haulik wa bi quwatik.
Jika nanti terus berdepe-depe, tawajjuh kepada Kanjeng Nabi, kita akan
dibimbing oleh tarbiyah dan nadrohnya Rasuulullah SAW. Karenanya, jika melatih
Lillah dan Billah dengan dibarengi membaca shalawat, atau membaca Yaa Sayyidii
Yaa Rasuulallah, fii ayyi makaanin wa saa’atin, maka insya Allah lebih
mudah. Oleh karena itu, mari bayangkan kita tawajjuh di belakan Rasuulullah
SAW, di belakang Ghautsu Hadzaz Zaman, insya Allah melatih Lillah dan Billah
diberi mudah. Jika kita sudah diberikan bisa mengeterapkan Lillah dan Billah
ini, maka kita bisa naik ke tingkat Ikhlasul Arifin. Mudah-mudahan kita diberi
taufik, hidayah dan fadhol dari Allah SWT, hingga kita bisa sungguh-sungguh
ikhlas yang Arifin, ikhlasul muhibbin, ikhlasul abidin. Amin yaa robbal alamin.
Dan yang paling penting lagi disini adalah, bahwa Ikhlas Arifin ini merupakan
ikhlas yang paling tinggi di antara ikhlas-ikhlas yang lain, baik Ikhlasul
Muhibbin maupun Zahidin/Abidin. Keduanya masih di bawah ikhlasnya orang yang
sudah ma’rifat kepada Allah. Dan, mudah-mudahan kita dibimbing, diberi taufik
hidayah Allah SWT, syafaat Rasuulullah SAW, tarbiyah Ghautsu Hadzaz Zaman RA
sehingga betul-betul menjadi hamba Allah, betul-betul menjadi orang yang cinta
kepada Allah, betul-betul menjadi orang yang fana’ kepada Allah SWT. Amin ya
robbal alamin.
الفا تحة
يَا رَبَّـــنَا
اللَّهُمَ صَــــلِّ وَسَــلِّمِ * عَــــلَى مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ اْلاُمَــمِ
وَاْلآلِ
وَاجْعَلِ اْلأَنَامَ مُسْرِعِينْ *
باِلْوَاحِدِيَةِ لِرَبِّ الْعَالَمِينْ
يَارَ
بَّنَااغْفِرْيَسِرِّافْتَحْ وَاهْدِنَا * قَرِّبْ وَاَ لِّفْ بَيْنَنَا يَا رَ
بَّنَا
الفا تحة
Pengajian
Al Hikam Ahad Pagi oleh
Hadrotul
Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Majid RA
(Maret 2005)
Tentunya
penulisan ini masih dari jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada
pembaca yang budiman, sudinya untuk memberikan saran perbaikan dalam penulisan,
baik dalam lafad arab maupun lafad latin dengan menghubungi admin melalui email
atau menulis komentar.
Besar
harapan kami bisa
memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya bagi Perjuangan Suci
Fafirruu Ilallooh wa Rasulihi SAW. Segala
salah dan khilaf mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Aham
edisi 58. Orang yang Billah, Terbebas dari Gravitasi Emosi. (Kediri
: Qolamuna, 2005). Hal38-40

Tidak ada komentar