Allah Dzat Yang Maha Dhohir, hati yang tertutup tidak bisa melihat Allah
![]() |
| Pengajian Kitab Al Hikam - Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh |
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَهُوَ الَّذِى أَظْهَرَ كُلَّ شَيْئٍ
كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَهُوَ الَّذِى أَظْهَرَ كُلَّ شَيْئٍ
“Bagaimana dapat digambarkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu,
padahal Allah-lah yang mendhahirkan (menampakkan) segala sesuatu.”
(A-Hikam ke-16)
Allah adalah Dzat Yang Maha Dhahir. Dia bahkan bisa memaksa kahanan yang tidak ada bisa menjadi tutup sehingga kita tidak mengetahui-Nya. Sesuatu yang nyata bisa ditutupi dengan sesuatu yang tidak nyata. Barang yang wujud bisa ditutupi dengan barang yang tidak wujud. Hal ini sepertinya memang tidak masuk akal. Tapi nyatanya,
Allah mempunyai sifat kuasa memaksa sesuatu, memaksa kita tidak mengetahui adanya Allah hanya dengan ditutup dengan sesuatu yang kecil yang tidak terlihat.
Allah mempunyai sifat kuasa memaksa sesuatu, memaksa kita tidak mengetahui adanya Allah hanya dengan ditutup dengan sesuatu yang kecil yang tidak terlihat.
Bagi orang yang hatinya tidak dibuka oleh Allah SWT, tidak mungkin baginya makhluk menutupi Allah. Tapi bagi orang yang hatinya masih tertutup (belum sadar kepada Allah), sesuatu yang tidak mungkin itu, malah menjadi mungkin.
Bagaimana makhluk ini dapat menutupi Allah? Padahal Allah itu Dzat Yang Dhahir dalam segala sesuatu? Atau Allah menampakkan diri kepada segala sesuatu, di hati seseorang atau di hati semua makhluk sehingga mereka (mestinya) mengetahui-Nya?
Oleh karena Allah itu menampakkan diripada sesuatu, maka semua makhluk (yang mengetahui-Nya) itu sujud kepada Allah SWT dengan membaca tasbih kepada-Nya. Namun karena hati kita buta, kita tidak mengetahui-Nya. Padahal sebenarnya, semua makhluk; termasuk binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, mereka dzikir dan sujud kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya mereka semua mengenal Allah.
Dengan demikian, hakikat semua makhluk itu adalah wushul ma’rifat kepada Allah, sesuai dengan ukuran tajalli-Nya Allah kepada makhluk tersebut. Seberapa besar Allah menampakkan diri kepada makhluk, sebesar itu pula kita dapat melihat Allah. Adanya diri kita tidak bisa melihat tajalli-Nya Allah kepada kita, adalah karena kita tertutup oleh nafsu kita sendiri. Padahal, ketika pada zaman azali dulu, saat kita masih ada di alam ruh, semua ruh itu ma’rifat kepada Allah. Namun, setelah mereka dilahirkan ke dunia dan karena di dunia ini ada nafsu, maka hati mereka pun langsung tertutup dengan nafsu-nafsunya sendiri. Sehingga mata hati mereka, mata hati kita, semuanya buta. Tajalli-Nya Allah di hati kita tertutup oleh nafsu kita sendiri, sehingga kita tidak dapat wushul dan ma’rifat kepada-Nya.
Jika Allah Nampak pada sesuatu kemudian manusia tidak dapat melihat Allah, itu karena kurangnya ma’rifat dirinya kepada Allah, apesnya ma’rifat kepada Allah. Semua itu karena hatinya tertutup oleh nafsunya sendiri. Apabila nafsunya itu dibuka, pasti mereka semua akan kembali ma’rifat kepada Allah SWT. Dengan demikian, manusia sebenarnya ditutup oleh makhluk berupa nafsu, sehingga Allah yang tampak jelas pada segala sesuatu pun tidak terlihat.
Pada umumnya, hat imanusia itu tertutup oleh hartanya, oleh motornya, oleh pasangannya yang ayu, yang ganteng, dan duniawiyah lainnya. Padahal Allah menampakkan diri pada makhluk-makhluk itu tadi. Harusnya tidak mungkin kita tertutup dengan makhluk itu. Tapi kenyataannya Allah bisa memaksa menutupi dengan makhluk-makhluk tersebut. Hal ini hanya terjadi bagi orang yang belum sadar kepada Allah SWT.
Bagaimana lagi sampai tertutup manusia ini dengan sesuatu, hingga tidak bisa melihat Allah, padahal Allah itu Dhahir (nyata,jelas) sebelum diwujudkannya semua makhluk ini. Maka sekali lagi. Sesuatu yang diwujudkan dapat menutup yang mewujudkan (Allah) ini hanya bagi orang yang tertutup mata hatinya, karena hakikatnya itu tidak mungkin.
Allah itu nyata Dzat-Nya. Yang tidak diusahakan lahir. Wujud dengan sendirinya. Dan Dhahir-Nya Allah itu bukan untuk mengambil manfaat atas ke-Dhahiran-Nya. Allah Dhahir bukan karena disebabkan. Tidak seperti makhluk. Kalau makhluk dhahir disebabkan karena Khaliq. Sedang Dhahir-Nya Khaliq tidak sebab dan karena makhluk. Wujud-Nya Allah ada dengan diri-Nya sendiri.
Wujudnya makhluk ini adalah karena tajalli-Nya Allah. Wujudnya makhluk karena diwujudkan oleh Allah. Karena Allah memiliki sifat Mewujudkan. Sehingga mana mungkin makhluk dapat menutupi Allah. Itu tidak mungkin. Tapi kalau nyatanya kita tertutup dari Allah, kita tidak dapat ma’rifat kepada Allah. Sekali lagi, itu disebabkan hati kita tertutup dengan nafsu kita sendiri.
Bagaimana mungkin lagi Allah yang lebih nyata, lebih jelas daripada sesuatu, . sebagaimana matahari. Ia lebih jelas daripada lampu, kok lampu bisa nutupi terangnya matahari, ini muhal. Tidak mungkin Allah ditutupi oleh makhluk, karena Allah lebih jelas daripada makhluk. Tapi kalau nyatanya kita tetap tertutup oleh makhluk hingga hati kita tidak bisa melihat Allah. Ini bukan Allah yang tidak jelas, tapi karena butanya mata hati kita. Ingat Allah saja sulit, apa lagi melihat Allah.
Sesuatu yang wujud itu (Allah), pasti lebih kuat, lebih jelas, lebih nyata daripada sesuatu yang tidak wujud, atau yang wujudnya diwujudkan. Sebagaimana contoh tadi; terangnya matahari pasti lebih kuat daripada terangnya lampu.
Allah itu mempunyai sifat Daim (langgeng). Sedang kita punya sifat fana (hancur). Dhahir-Nya Allah yang merupakan dhahir bongso dzat ini jelas lebih kuat daripada dhahir anyar teko (huduts lawannya sifat qidam; baru) Dhahir-Nya mutlak, tidak membutuhkan apa-apa. Wujud yang dengan sendirinya tanpa sebab, pasti lebih kuat daripada wujud yang disebabkan atau diadakan. Seperti halnya perbedaan antara barang yang alanggeng (abadi) dengan barang kuno, apalagi barang baru. Sekuat-kuatnya barang kuno, barang antik, pasti akan rusak. Seberapa pun umurnya barang lama tetap akan mengalami kerusakan. Tapi kalau barang langgeng, daim itu tidak bisa rusak.
Wujud-Nya Allah, kalau kita pikir, tidak dapat ditemukan. Karena kejelasan Allah itu sendiri tidak dapat dikuasai oleh dhahir yang apes (lemah). Sesuatu yang apes tentu tidak dapat melihat sesuatu yang dhohirnya lebih kuat. Seperti halnya lowo (kelelawar). Ia hanya mampu melihat di malam hari. Ia tidak bisa melihat di waktu pagi, siang atau sore hari. Lowo tidak bisa melihat di waktu siang, karena terangnya siang itu sendiri. Juga karena pandangan lowo yang lemah. Lemahnya pandangan lowo, kalah dengan mencoronge nurnya matahari, ketika matahari bercahaya.
Sekali lagi, karena kuatnya sinar matahari, terangnya siang, disertai lemahnya pandangan lowo, hingga lowo tidak bisa melihat di siang hari.
Begitu juga dengan orang yang memiliki akal dan hati yang lemah, yang masih tertutup dengan nafsunya. Luhur besarnya Hadroh-Nya Allah dan sangat jelas sekali menjadikan kita tidak mampu melihat Allah SWT, kecuali bagi mereka yang sudah dibukakan mata hatinya oleh Allah SWT. Jadi, terangnya Hadroh-Nya Allah, atau jelasnya Hadroh-Nya Allah (bangete terangnya Allah), bagi akal dan hati yang lemah, adalah seperti yang digambarkan di atas (mata kelelawar yang lemah), ia tidak akan mampu melihat Allah. Semuanya tertutup, baik maknawiyah atau kauniyah (wujud-Nya Allah).
Kauniyah, jelas mata (lahir) kita tidak mampu melihat Dzat-Nya Allah. Maknawiyah, bila tidak dengan ma’rifat, kita tidak mampu melihat Allah SWT. Karena mata hati kita tertutup.
Secara kauniyah, saking jelasnya Allah, mata kita tidak mampu melihat Dzat-Nya Allah. Padahal Allah Dzat yang Dhahir, illa fi yaumil mahsyar, kecuali besok di padang mahsyar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia bisa melihat jelas kepada Allah SWT. Dan ada juga yang mengatakan bisa melihatnya Allah itu adalah bi ainit bashiroh (dengan mata hati).
Karena itu hadirin-hadirot Allah menutupi. Hingga secara kauniyah kita tidak bisa melihat Allah karena ketutupan makhluk yang seharusnya tidak bisa menutupi. Tapi itulah diantara sifat kuasa-Nya Allah, qadhar-Nya Allah mampu menutupi mata hati manusia, dengan makhluk (yang sesungguhnya tidak mungkin bisa menutupi Allah).
Begitupun soal maknawiyah bashiroh. Mata hati kita ini tidak bisa melihat Allah hingga kita tidak bisa wushul kepada-Nya, karena tertutup oleh nafsu-nafsu kita sendiri. Itulah Kuasanya Allalh. Dia punya kekuatan menutupi diri-Nya dengan makhluk. Dan.., Dia juga punya kuasa untuk membuka hijab itu sehingga hati manusia bisa wushul dan ma’rifat kepada-Nya.
Karena itu hadirin-hadirot, mari kita merasa dosa di hadapan Allah SWT. Kita akui bahwa selama ini kita hanya menuruti hawa nafsu saja, hingga hati kita terhijab dari Allah. Allah Yang Dhahir, Yang Nyata, tapi hati kita tidak dapat melihat Allah, Dzat yang Qawiyyun, Yang Punya Irodah.
Para hadirin-hadirot yang kami hormati. Mari kita tobat kepada Allah SWT, mohon diberi taufik serta hidayah-Nya, diampuni dosa-dosa kita, hingga kita bisa wushul kepada Allah. Untuk diajak Dzikir saja hati kita sulit para hadirin. Apalagi kita harus ma’rifat kepada Allah SWT.
Al Fatihah
Pengajian Al Hikam Ahad Pagi
oleh Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo
KH. Abdul Latif Majid RA (2006)
Tentunya penulisan ini masih dari jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada pembaca yang budiman, sudinya untuk memberikan saran perbaikan dalam penulisan, baik dalam lafad arab maupun lafad latin dengan menghubungi admin melalui email atau menulis komentar.
Kami selaku penulis berharap bisa memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya bagi Perjuangan Suci Fafirruu Ilallooh wa Rasulihi SAW. Segala salah dan khilaf mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Aham edisi 64. Dakwah… Kebutuhan atau Kewajiban?. (Kediri : Qolamuna, 2006). Hal44-46

Tidak ada komentar